Wednesday, December 5, 2012

ROMAN COLISEUM


Pengantar
Colosseum/Coliseum adalah sebuah gedung amphitheater berbentuk elips di tengah kota Roma, Itali. Gedung amphitheater terbesar yang pernah dibangun oleh kekaisaran Romawi ini dibangun dengan pondasi beton dan batu. Colosseum dianggap sebagai karya arsitektur dan bangunan romawi yang terbesar. Hingga sekarang, gambar Colosseum tercetak dalam mata uang koin lima sen euro versi Italia.

Sejarah Perkembangan Pembangunan Colosseum
Colosseum berada di sebelah timur gedung musyawarah bangsa romawi kuno. Bangunan ini mulai dibangun sekitar tahun 70-72 M di bawah pemerintahan Kaisar Vespasian dan selesai pada tahun 80 M di bawah kekaisaran Titus. Tempat yang dipilih untuk membangun Colosseum ini adalah sebuah dataran datar di dasar lembah yang rendah di antara Caelian, Esquiline, dan dataran tinggi Palatine. Sejak 2 SM, daerah ini sudah merupakan daerah pemukiman yang padat. Namun, areal ini menjadi cukup lengang sejak pembakaran kota, yang dilakukan oleh Kaisar Nero yang bermaksud untuk menjadikan areal ini sebagai milik pribadinya. Kaisar Nero membangun Gedung Domus Aurea yang begitu megah di tempat ini, dan di depannya ia membuat danau buatan yang dikelilingi oleh paviliun-paviliun, taman-taman dan serambi yang bertiang-tiang. Ia juga membangun sebuah terowongan air, Aqua Claudia, yang diperbesar untuk menyuplai air di area ini dan sekaligus membangun sebuah patung perunggu Colossus of Nero yang amat besar di dekatnya dan diletakkan di depan pintu masuk Domus Aurea.
Nama Colosseum dipercaya sejak lama berasal sebuah patung Kaisar Nero yang amat besar ini (Patung Nero ini diberi nama Colossus dari Rhodes). Patung ini selanjutnya dimodifikasi oleh penerus Kaisar Nero menjadi serupa dengan Patung Helios (Matahari) atau Apollo, Dewa Matahari, dengan menambahkan mahkota yang cocok yakni berbentuk matahari. Kepala Nero pada patung ini juga diganti beberapa kali dengan kepala dari pengganti-pengganti kaisar. Meskipun sedikit berbau pagan, patung ini tetap berdiri kokoh hingga era medieval dan bahkan dianggap memiliki kekuatan magis. Patung ini dianggap menjadi ikon simbol keabadian Roma.
Pada perkembangan selanjutnya, sebagian besar Domus Aurea dihancurkan, walaupun patung Colossus masih dipertahankan. Danau buatan ditimbuni tanah kembali dan di situlah dibangun Flavian Amphitheater. Nama Amphitheatrum Flavium ini diambil dari nama keluarga Kaisar Vespasian dan Titus, yakni Flavius. Sekolah gladiator dan bangunan-bangunan pendukung lainnya dibangun di sekitarnya di tempat dulu Domus Aurea berada. Ada sebuah tulisan yang ditemukan saat rekonstruksi bangunan ini menyatakan, “Kaisar Vespasian memerintahkan untuk membangun sebuah gedung amphitheater yang baru dan akan dibiayai dari hasil pampasan perangnya.” Tulisan ini sebenarnya merujuk pada harta dalam jumlah yang amat besar yang berhasil didapatkan oleh bangsa Romawi ketika berhasil memenangkan revolusi Yahudi pada tahun 70 M. JAdi, Colosseum bisa dianggap sebagai monumen kemenangan yang dibangun karena ada tradisi romawi yang mendorong untuk membuat sebuah monumen untuk merayakan kemenangan yang besar. Keputusan Vespasian untuk membangun Colosseum di tempat danau Nero ini bisa dilihat juga sebagai langkah yang diambilnya untuk mengambil hati rakyat dengan mengembalikan kembali area yang telah diambil Nero dari rakyat. Secara geografis, posisi Colosseum ini sungguh istimewa. Colosseum berada tepat di tengah kota Roma, sedangkan banyak amphitheater lain dibangun di luar kota. Dengan demikian, secara simbolis dinyatakan bahwa Colosseum adalah Jantung kota Roma.
Pembangunan Colosseum hingga tingkat tiga diselesaikan oleh Vespasian hingga kematiannya (79 M). Lalu, bagian atas diselesaikan oleh anaknya, Kaisar Titus pada tahun 80 M. Setelah selesai bangunan ini pun diresmikan oleh Kaisar Titus. Dio Cassius mengatakan bahwa ada lebih dari 9000 binatang buas disembelih selama pertandingan-pertandingan yang diadakan saat peresmian bangunan ini. Selanjutnya, bangunan ini dimodifikasi ulang oleh Kaisar Domitian ketika memerintah (tahun 81-96 M). Domitian membangun hypogeum, sebuah rangkaian lorong-lorong bawah tanah yang digunakan untuk tempat binatang buas dan juga budak-budak. Dia juga menambahkan balkon di atas Colosseum untuk menambah jumlah kapasitas penontonnya.

Colosseum menjadi Coliseum
Pada masa selanjutnya ternyata patung Colossus Nero ini dihancurkan, sebabnya kemungkinan karena perunggu pada patung ini akan di daur ulang dan dibentuk menjadi sesuatu yang lain. Pada tahun 1000 nama Colosseum baru dimunculkan untuk menggantikan Flavian Amphitheater. Patung Nero itu sendiri sudah dilupakan oleh semua orang, dan yang tertinggal hanyalah pondasinya, yang terletak antara Colosseum, dekat Kuil Venus dan Roma.
Pada abad kedelapan, seorang epigram bernama Bede Venerabile mempopulerkan makna simbol patung tersebut dengan gaya nubuatan, yang berbunyi: “Quam stat Coliseus, stat et Roma; quando cadet colisaeus, cadet et Roma; quando cadet Roma, cadet et mundus (yang berarti: selama Colossus tetap berdiri kokoh, maka Roma pun akan tetap berdiri kokoh; jika Colossus hancur, maka roma pun akan hancur; jika roma hancur, maka dunia pun akan hancur). Kata Colosus seringkali disalahtafsirkan dengan Colosseum (hal yang sama juga terjadi pada puisi Byron yang berjudul Childe Harold’s Pilgrimage). Namun demikian, pada saat itu Bede Venerabile memang memaksudkan menulis kata Coliseus dengan genus maskulinum karena ingin merujuk pada patung Nero, karena pada saat itu Colosseum memang masih terkenal dengan nama Flavian Amphitheatre.
Nama ini kemudian berkembang lebih jauh menjadi Coliseum sejak abad pertengahan. Di Itali, gedung amphiteater masih dikenal dengan nama il Colosseo, dan juga dalam bahasa-bahasa rumpun romawi lainnya masih memiliki kedekatan bunyi, misalnya le Coliseé (Perancis), el Coliseo (Spanyol), o Coliseu (Portugis).

Fungsi Gedung Coliseum
Untuk sebuah ukuran gedung yang dibangun pada masa itu, Colosseum tergolong sangat besar. Gedung ini bisa menampung 50.000 penonton. Colosseum awalnya digunakan untuk pertunjukkan gladiator dan pertunjukan rakyat lainnya, seperti: sandiwara pertarungan di lautan, sandiwara perburuan binatang, eksekusi, pengenangan kembali pertarungan-pertarungan yang melegenda, dan drama-drama yang bersumber dari mitologi klasik. Gedung ini beralih fungsi pada masa awal era medieval. Bangunan ini selanjutnya digunakan sebagai tempat pemukiman, ruang kerja, tempat beribadah agama tertentu, benteng, tambang galian, dan juga tempat suci bagi umat Kristiani.
Di abad 21 ini, Colosseum tetap menjadi sebuah icon yang emblematis dari Kekaisaran Romawi. Walaupun bangunan ini saat ini rusak sebagian akibat dari gempa bumi dan para pencuri batu. Bangunan ini sampai sekarang masih menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan masih memiliki hubungan dekat dengan Gereja Katolik Roma.

Coliseum dan Kemartiran Kristiani
            Seorang martir Kristen didefinisikan sebagai seorang pria atau wanita yang dibunuh karena iman Kristianinya. Banyak martir Kristen mengalami penderitaan yang hebat dan kematian yang menyiksa seperti: dirajam dengan batu, disalib, dan dipanggang di Coliseum Roma. Kata ηαρτυρια (martyr) berasal dari bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi “saksi”. Kemartiran adalah buah dari penyiksaan religius. Martir pertama orang Kristen yang terkenal adalah Santo Stefanus yang kisahnya tercatat dalam Kisah Para Rasul 6:8-8:3.
Ada banyak cara untuk menyiksa orang Kristen di Coliseum. Para martir yang dieksekusi umumnya diperlakukan seperti penjahat dengan disalib atau “damnatio ad bestia” (diumpankan pada hewan buas). Semakin kejam penyiksaan orang Kristen, Raja yang kejam dan jahat merasa semakin senang. Raja Nero sendiri memperkenalkan cara baru untuk menyiksa orang Kristen yakni dengan dipaku pada salib kemudian dibakar hidup-hidup saat hari menjelang sore. Raja Nero menganggap bahwa martir-martir Kristen itu bisa berguna sebagai obor yang menerangi kegelapan stadion.
St. Ignatius dari Antiokia merupakan Santo yang dianggap sebagai martir pertama yang dibunuh di Coliseum. Beliau adalah seorang uskup dari antiokia. Pada tahun 107 M Kaisar Trajan datang ke Antiokia dan memaksa orang-orang Kristen untuk memilih antara Dewa pagan orang Romawi atau Mati. Ignatius menolak dan Kaisar menghukumnya dengan hukuman “damnatio ad bestia”. Ignasius lalu dibawa ke Roma, dijaga oleh prajurit-prajurit tetapi ia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Sampai akhirnya, di Roma, tubuhnya tidak bersisa lagi karena dicabik-cabik oleh hewan buas, kecuali beberapa tulangnya. Tulang-tulang tersebut sembunyikan secara rahasia dan dikembalikan ke Sntiokia.

Coliseum dan Kristianitas
            Pada abad pertengahan, Coliseum tidak dianggap sebagai sebuah tempat suci. Coliseum hanya digunakan sebagai benteng. Kemudian, pada masa selanjutnya, sebuah penggalian mengindikasikan bahwa ada juga nilai spiritual yang muncul dari situs ini. Kemungkinan nilai rohani itu muncul ketika situs Coliseum dihubungkan dengan martir-martir Gereja yang sangat dimuliakan.
Tampaknya baru dalam abad 16-17 Coliseum diakui sebagai sebuah situs sejarah Kristiani. Paus Pius V (1566-1572) pernah menyarankan para peziarah untuk mengumpulkan pasir dari arena Coliseum untuk digunakan sebagai relikui, karena ia menganggap bahwa di tanah itulah para martir mencurahkan darahnya. Namun, pandangan paus ini tidak begitu diperhatikan sampai kemudian pandangan ini dipopulerkan kembali oleh Fioravante Martinelli, yang memasukkan Coliseum dalam daftar tempat-tempat suci yang penting untuk mengenang kemartiran di dalam bukunya Roma ex ethinica sacra (1963).
Buku Martinelli ini ternyata menimbulkan opini publik. Beberapa tahun kemudian, Cardinal Altieri berencana untuk mengubah Coliseum menjadi tempat pertandingan matador. Opini publik berkat buku Martinelli dan Carlo Tomassi akhirnya membuat sebuah pamphlet yang intinya memprotes tindakan cardinal tersebut dan menganggapnya sebagai penajisan/pencemaran tempat kudus. Konflik ini cukup memanas dan akhirnya mendorong Paus Clement X untuk menutup serambi luar Coliseum dan mengumumkan bahwa Coliseum merupakan situs yang dilindungi. Namun, keputusan ini tetap memperbolehkan penggalian-penggalian artefak di sekitar Coliseum.
            Atas usul St. Leonardus dari Porto Mauritio, Paus Benediktus XIV (1740-1758) melarang penggalian di sekitar Coliseum dan mendirikan stasi-stasi Jalan Salib di sekitar arena, yang tetap ada hingga Februari 1874. St. Benediktus Yosep Labre menghabiskan hidupnya di dalam tembok Coliseum, hidup dari sedekah, hingga wafatnya pada tahun 1783. Akhirnya, pada abad 19 atas bantuan dana dari Paus, Coliseum diperbaiki dan direstorasi, dan Coliseum tetap mempertahankan hubungannya dengan kristianitas. Salib berdiri di beberapa titik di sekitar arena dan setiap Jumat Agung Paus memimpin prosesi Jalan Salib menuju Coliseum.

Komentar Pastoral
            Yang bisa dikatakan kepada umat tentang bangunan ini ialah nilai-nilai kemartiran jemaat Kristen perdana yang luar biasa pada jaman itu. Jemaat jaman sekarang perlu bertanya secara serius mengapa iman jemaat perdana kala itu benar-benar sangat mendalam dan total, sehingga mereka benar-benar rela mati demi iman mereka. Mereka tidak gentar untuk tetap memeluk iman kristiani walaupun mereka sudah sadar akan bahaya maut yang akan menghadang mereka kalau tetap memeluk iman kristiani. Perlu direnungkan secara mendalam tentang pendidikan iman macam apa yang dialami oleh jemaat perdana kala itu sehingga iman kristiani sungguh merasuk seperti itu.
            Namun demikian, Jika menengok lebih jauh, kita dapat mengerti mengapa jemaat perdana saat itu sungguh-sungguh memilih jalan kemartiran seperti itu. Satu-satunya jalan kekudusan menuju surga yang dikenal pada saat itu adalah Jalan kemartiran (yakni harus wafat demi iman). Maka, jemaat perdana memang “berebut kesempatan untuk mati” demi iman, karena mereka yakin bahwa kematian dengan cara demikian akan langsung membawa mereka menuju surga. Pandangan ini kemudian sedikit bergeser pada abad monastis ketika cara untuk mencapai Kekudusan berganti menjadi Fuga Mundi (melarikan diri dari dunia dan masuk ke dalam biara-biara). Kini, Konsili Vatikan II menyerukan bahwa Setiap orang beriman dipanggil kepada kekudusan. Jalan kekudusan bisa ditempuh dengan menjalankan tugas dan tanggung jawab sehari-hari dengan baik. Sebagai bapak, lakukanlah tugas sebagai bapak sebaik mungkin dengan mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Sebagai ibu, lakukanlah tugas sebagai ibu dengan sebaik mungkin dengan memasak dan mengasuh anak dengan setia.  Dengan kata lain, jalan kekudusan tidak lagi harus ditempuh dengan kematian seperti para martir terdahulu di jaman jemaat perdana.

No comments:

Post a Comment