Saturday, September 17, 2011

REVIEW BUKU MENJAWAB ATEIS INDONESIA

Setelah membaca beberapa postingan saingan “peserat lomba giveaway” di sini, saya jadi ikut-ikutan tergelitik untuk ikut lomba giveaway yang diadakan oleh mbak Fanny di blog Sang Cerpenis Bercerita .... hehehe.... Namun, setelah saya baca semua postingan teman-teman yang lain, ternyata sebagian besar menggunakan gaya gaul dalam penulisannya, jadi kali ini saya akan coba menampilkan gaya yang agak berbeda dari mereka. Gaya penulisan Serius! Semoga nggak pusing membacanya karena saya adalah seorang blogger yang masih ingusan. :D

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki iklim keagamaan yang sangat kuat. Ada 6 agama besar yang berkembang secara subur di dalamnya dan itu belum termasuk ribuan kepercayaan-kepercayaan lokal yang juga dilestarikan secara turun-temurun (eg: kejawen, kaharingan, dll). Sadar tidak sadar, Indonesia merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Namun anehnya, Iklim keagamaan yang begitu kuat justru memunculkan segolongan orang yang mulai merasa muak dan jenuh untuk beragama. Rasa muak dan jenuh ini bersumber dari bermacam-macam sebab. Secara sederhana, saya pribadi menggolongkan tipe-tipe tersebut dalam beberapa kelompok.

Kelompok pertama saya sebut sebagai Kelompok Kecewa

Ada beberapa orang yang merasa jenuh beragama karena tidak melihat perbedaan yang signifikan ketika mereka beragama dan tidak. “Ah... sama saja. Ketika beragama pun tidak semua doa saya didengarkan dan dikabulkan oleh Tuhan! Untuk apa saya beragama kalau tidak ada untungnya buat saya.”, gumam mereka.

Kelompok kedua saya sebut sebagai Kelompok Anti-Kejahatan

Sebagian lain merasa muak beragama karena melihat kejahatan dan ketidakadilan yang justru semakin merajalela di dunia ini. “Jika Tuhan Maha Baik, bisakah Ia membiarkan semua kejahatan ini tetap merajalela?”,tanya mereka. Ironisnya, banyak penganut agama-agama besar justru terlibat dalam pembunuhan dan tindakan-tindakan yang tidak berperi kemanuasiaan dengan kedok membela agama yang diyakininya paling benar dan penganut agama lain harus dibabat habis.

Kelompok ketiga saya sebut sebagai Kelompok Scientist

Sebagian orang yang lain lagi merasa bahwa Tuhan tidak perlu dipercaya lagi karena ilmu pengetahuan perlahan-lahan sudah bisa menjelaskan semua hal yang dulu tidak bisa kita mengerti tanpa Tuhan. Orang-orang dalam golongan ini lebih percaya dengan bukti-bukti ilmiah yang bisa dinalar dengan logika dan bisa dicari pembuktiannya dalam laboratorium-laboratorium. Mereka menolak segala hal yang berbau supernatural, klenik, dll. “Itu semua nggak ilmiah!”, seru mereka.

Dalam era keterbukaan informasi dan pengakuan hak asasi manusia seperti sekarang ini, di Indonesia perlahan-lahan sudah mulai menjamur grup-grup di warung kopi virtual (mis: Facebook, Twitter dll) yang mengakomodasi kebutuhan para ateis ini untuk bertemu dengan sesama warga Indonesia yang berpkiran sama (misal: di Facebook: Komunitas Ateis Indonesia (KAI), Indonesian Atheist (IA), Anda Bertanya Ateis Menjawab (ABAM), dll). Jika tidak disadari, Hal ini bisa menimbulkan gejolak tersendiri bagi agama-agama besar di Indonesia.

Penulis buku ini, Eko Arryawan, alias Lovepassword, adalah termasuk seorang yang sangat aktif berkecimpung di warung-warung virtual ini dan berdikusi dengan para ateis. Saya pribadi pernah berdiskusi juga dengan penulis secara langsung ketika sedang berdiskusi. Menariknya, ternyata Eko Arryawan berusaha mendokumentasikan, mensistematisasi dan menyusun hasil diskusi-diskusinya menjadi sebuah buku yang cukup menarik dan mungkin sangat berguna bagi masyarakat di Indonesia. Saya pribadi menilai bahwa pembahasan dalam buku ini akan sangat berbeda dengan buku-buku sejenis karena lahir bukan dari awang-awang teori-teori melulu, melainkan dari sebuah diskusi yang hidup dan pergulatan nyata yang dialami oleh para ateis. Karena sifatnya yang universal, buku ini menjadi must read bagi mereka yang ingin memahami iman dan agama mereka dengan lebih mendalam dan siap berdiskusi dengan para ateis yang dalam tahun-tahun mendatang akan semakin berani “membuka topeng”-nya di Indonesia, seperti kata Karl Karnadi (seorang ateis dan pemikir bebas yang sering diwawancarai oleh media massa nasional maupun internasional berkaitan dengan Ateisme di Indonesia).

Mari Beriman dan Beragama sekaligus tetap Berpikir dan Berakal sehat.

Iman tidak boleh Buta!


Ini cover bukunya:










Tulisan ini didedikasikan untuk lomba giveaway dari blog Sang Cerpenis Bercerita.











Tuesday, August 16, 2011

Perbedaan Kisah Penciptaan dalam Kitab Kejadian

Kej 1:1-2:4a à Kisah Penciptaan I

Bentuk Sastra: Myth? History? Legend? Saga? (Belum Pasti)

Tradisi: Imam (Priestly, Abad VI-V SM, Sesudah masa pembuangan Babel)

Latar Tradisi: Latar belakang penulisan Tradisi Imam adalah untuk memperkuat iman dan membangun kembali identitas bangsa Israel. Tradisi ini percaya bahwa masa pembuangan adalah hukuman dari Tuhan karena praktek-praktek keagamaan yang tidak benar. Tujuan penulisan Tradisi P ialah untuk menampilkan sosok Allah yang Mahakuasa, yang memberikan otoritas atas bumi dan segala isinya kepada manusia.

Ciri-ciri:

- lebih abstrak dan teologis

- banyak perulangan (ada semacam reffren, “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari...”)

- Ada tekanan atas hari ke-7 sebagai hari istirahat. Tradisi P ingin menunjukkan bahwa hari Sabbath mendapat legalisasinya sejak awal dunia dengan menghubungkannya dengan tindakan Sang Pencipta sendiri 9yang beristirahat pada hari ke-7).

- Tuhan sebagai sesuatu yang transenden, yang menghendaki agar manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, tetapi tidak jelas apa maksud dari pernyataan ini. Atau Tuhan menghendaki agar manusia memiliki kesamaan fisik dengan Tuhan atau Manusia memiliki keserupaan dengan Tuhan dalam hal “kuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi? (Gen 1:28)

- Walaupun transenden, P menggambarkan bahwa Tuhan dan Manusia mempunyai hubungan dekat. Ada monolog langsung antara Tuhan dan manusia, yang agak terkesan seperti majikan dan hamba. Akan tetapi, bisa berarti sebaliknya jika ternyata manusia dengan rela hati menerima dengan gembira permintaan Tuhan tanpa bertanya apa-apa lagi karena manusia sudah mengerti betul apa yang diinginkan oleh “sahabatnya”.

Struktur:

- Tampaknya Tradisi Imam ingin menggambarkan kisah penciptaan sebagai sesuatu yang sangat teratur dengan bagan yang rapi.

Bagan tersebut sbb:

Hari I: Terang dan gelap

Hari II: memisahkan air atas dan bawah

Hari III: Dataran kering dan Tumbuh-tumbuhan

Hari IV: Membuat penerang di langit

Hari V: Menciptakan burung dan ikan dari air

Hari VI: menciptakan Hewan dan Manusia


Hari VII: Tuhan Beristirahat


Kej 2:4b-3:24 à Kisah Penciptaan II

Bentuk Sastra: Myth? History? Legend? Saga (Belum Pasti)

Tradisi: Yahwis (Abad X SM)

Latar Tradisi: Penulisan tradisi ini mulai pada jaman Daud/Salomo. Berbeda jauh dengan tradisi imam di atas, tradisi ini sebagai ungkapan cinta atas Kerajaan Daud yang jaya. Yahwis menampilkan kekudusan dan kekuasaan yang ada dalam Kerajaan Daud sebagai pemenuhan janji Allah. Kisah-kisah Yahwis ingin mempersatukan suku-suku dalam Kerajaan Daud melalui sebuah kesamaan sejarah.

Ciri-ciri:

- Berisi kisah penciptaan II (lain dari yang pertama) ditambah dengan kisah perihal dosa manusia

- Cerita lebih hidup karena Yahwis menembus sisi-sisi manusiawi sehingga membuat cerita Yahwis memuat pergulatan psikologis dan batin manusia dalam hal pilihan dan kehendak bebas manusia.

- Tidak ada kisah penciptaan manusia menurut gambar dan citra Allah, tetapi di dalam cerita ini tetap terdapat unsur esensial yang sama yakni: kapasitas pengetahuan tentang diri sendiri, Pengalaman akan keberadaannya di dunia, kebutuhan untuk mengisi kesendiriannya.

- Tradisi Yahwis tampaknya ingin mengeksplorasi tentang hubungan anatara Tuhan dan manusia. Tuhan dalam Tradisi Yahwis lebih digambarkan secara manusiawi, bisa berjalan-jalan dan berbincang-bincang seperti manusia pada umumnya sehingga manusia bisa menjalin hubungan dekat dengannya. Yahwis menunjukkan dialog antara Tuhan dan Manusia.

- Selanjutnya, manusia digambarkan sama dengan Allah, karena sudah memiliki pengetahuan seperti manusia, sebagai akibat dari memakan buah terlarang.

- Tuhan tampak sebagai pencipta yang sangat mencintai dan sangat peduli dengan ciptaannya.

Pokok-pokok kesimpulan (Teologi?):

Kisah ini bukan laporan historis melainkan menyampaikan ajaran iman melalui refleksi iman.

Butir-butir iman yang dapat diangkat:

1. Allah pencipta dan manusia ciptaan. Allah mencipta dari tidak ada ke ada.

2. Allah menciptakan semuanya itu baik (ay 12, 18, 21, 25) dan bahkan sungguh amat baik (ay 31)

3. Ada tujuan penciptaan

4. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah

5. Bentuk dosa yang pertama ialah Manusia ingin menentukan sendiri baik dan buruk, lepas dari Allah.



Wednesday, July 20, 2011

KISI-KISI KOMPREHENSIF FILSAFAT

1. PERGESERAN FILSAFAT YUNANI (DARI MITOS-LOGOS) KE PATRISTIK-MEDIEVAL-RENAISAN (PENG. FILSAFAT)

Mitosà awal peradaban rationalitas. Mitos adalah ekspresi yang sangat hidup mengenai relasi manusia dengan ruang hidupnya.

Filsafat à Pengembaraan akal budi manusia sesudah mitologi.

Patristik à pengkristianian filsafat. Menggeser tema-tema helenistik ke iman kristiani.

Mediovale à filsafat mempunyai keterpaduan dengan teologi. Teologi sangat berkarakter filosofis. Filsafat Tomas Akuinas jadi emblem. Fides quaerens intellectum. Filsafat adalah praeambulum fidei dan ancilla theologiae.

Renaisans à lahir kembali. Humanisme lahir kembali. Kembali ke awal (yunani) tanpa dikaitkan lagi dengan agama.

2. CONFESSIONES AGUSTINUS BUKU 1: TUHAN DAN MANUSIA

Pada umumnya, cofessiones berarti pengakuan. Pengakuan ini seringkali dikaitkan dengan mengakui kesalahan yang telah diperbuat kepada orang lain. Kegiatan mengaku ini tentunya disertai dengan penyesalan dan niat untuk tidak mengulanginya lagi serta semakin mendekatkan kembali relasi yang retak akibat kesalahan tersebut.

Buku confessiones Agustinus menyatakan hal yang serupa dengan kenyataan di atas. Namun, perlulah diingat bahwa Confessiones Agustinus tidak semata-mata berisi pengakuan atas kesalahannya di masa lampau. Confessiones ini lebih menekankan pada ungkapan kesadaran diri Agustinus bahwa ia adalah makhluk kecil dihadapan Tuhan dan ia memendam hasrat yang dalam untuk berjumpa dan berdiam di rumah Tuhan. Agustinus ingin membangun kembali relasinya dengan Allah yang telah retak. Relasi yang dimaksudkan di sini bukan hanya sekadar relasi fisik melainkan kerinduan Agustinus untuk bertemu Allah. Ungkapan “gelisah hatiku sebelum tinggal di rumah-Mu ya Tuhan” merupakan cerminan diri Agustinus yang sesungguhnya.

Relasi yang terjalin antara Allah dengan Agustinus menandakan relasi yang aktif tidak saling menunggu. Agustinus senantiasa bergerak, melangkah dan berusaha mencari Allah. Demikian pula, Allah senantiasa membuka diri bagi pencarian Agustinus. Hal ini mengungkapkan ada dua pribadi yang terlibat yakni Allah dan Agustinus yang selalu gelisah dan haus untuk berdiam bersama Allah.

Dalam permenungannya, Agustinus mengungkapkan pribadi Allah yang sesungguhnya. Allah itu maha besar karena Ia adalah pencipta. Allah pantas dipuji, dihormati dan disembah. Kebijaksanaan dan kekuasaan Allah tidak terbatas sehingga kepada-Nya manusia hendaknya memuji. Kebesaran-Nya juga mengundang manusia untuk diam di rumah-Nya.

Sementara itu, bagi Agustinus manusia adalah ciptaan. Manusia hanyalah bagian kecil dari seluruh penciptaan serta manusia tidak dapat lari dari kematian. Kematian adalah saksi dan bukti bahwa manusia adalah makhluk berdosa. Selain keberdosaan dalam diri manusia, sikap memuji Allah juga merupakan bagian yang tak terpisahkan karena sesungguhnya manusia diciptakan bagi Allah sebab manusia adalah milik-Nya.

Jalan pemikiran yang hendak ditawarkan oleh Agustinus adalah Allah itu besar maka pantas mendapat pujian. Sedangkan manusia itu hanya kecil saja tidak ada apa-apanya dibandingkan Tuhan. Agustinus mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk Allah maka dengan sendirinya manusia adalah milik Tuhan. Oleh karena itu, dalam hidupnya manusia senantiasa gelisah untuk segera menemukan Tuhan. Pergumulan Agustinus membuktikan bahwa peziarahan akal budi hendaknya berakhir pada penemuannya akan Tuhan dalam iman (Fides Quarens Intelektum).

Daftar Isi Confessiones:

1. Masa Kanak-kanak

2. Umur 16 thn

3. Di kartago, agustinus menganut manikeisme

4. Agustinus menjadi Guru di thagaste dan di kartago

5. thn 29, manikeisme makin dijauhi dan ditinggalkan

6. thn 30, keraguan rohani dan perbudakan moril

7. Usia matang. Perjumpaam dengan neo-platonisme

8. Krisis akhir dan pertobatan

9. Pembaptisan. Wafatnya Monika

10. Keadaan Jiwa Agustinus Sekarang

11. Renungan mengenai Kejadian 1

12. Renungan mengenai Kej 1

13. Nilai rohani penciptaan

3. APAKAH BENAR DAN SALAH DALAM EPISTEMOLOGI

Pengandaian-pengandaian dalam Epistemologi:

a. Pengetahuan tidak dimulai dari nol

b. ada sebab-sebab dan syarat-syarat formal (logika dan akal budi)

c. ada syarat dan sebab material (obyek dan titik tolak obyek material)

d. ada pengandaian moral: mis: sikap moral kita (lurus hati, intellectual honesty, dsb), terbuka dan rela menerima, patuh dan dapat diajar

Konsep Dasar:

KEBENARAN: adalah kesesuaian antara intelek dan yang real (adaequatio rei et intellectus).

Pengertian yang tidak tepat tentang KEBENARAN:

a. Idealist: persesuaian antara putusan dan hukum-hukum imanen dari akal budi. Maksudnya: ada pertalian (koherensi) antara pikiran dengan dirinya sendiri. Sangkalan: ndak bisa begitu donk... persesuaian dengan realitas pun masih perlu mutlak. Contoh: Mimpi mungkin bisa koheren tapi ndak sesuai dengan real.

b. Sosiologis: persetujuan antara manusia-manusia/kepercayaan kolektif. Sangkalan: Ow... tidak bisa! Bisa saja yang banyak salah dan yang satu itu benar. Dasar kebenaran kurang kuat.

c. Pragmatis: Benar adalah yang berguna, memajukan kegiatan, membantu perkembangan kita, dan mensukseskan. Sangkalan: ini membinasakan kebenaran.

Hubungan antara KEBENARAN dan KEBAIKAN:

Kebaikan: tujuan dari kecenderungan dan keinginan manusia.

Kebenaran: tujuan intelek.

Sifat kebenaran : Satu (tidak kontradiktif), tidak dapat dibagi (tidak ada derajat kebenaran), tinggal tetap/tidak berubah (arti formal kebenaran tidak berubah!).

KEPASTIAN: keadaan budi terhadap kebenaran. Keadaan budi yang sempurna. Kepastian mengakibatkan damai dan kesenangan dalam budi karena dari kodratnya budi ingin mencapai kebenaran yang merupakan kesempurnaan dari budi.

Ketidaktahuan: Tidak semua ketidaktahuan merupakan ke-malang-an. Tapi menjadi kemalangan jika seseorang tidak mempunyai pengetahuan yang seharusnya dia miliki, mis: Dosen Filsafat ga ngerti filsafat!

Kekeliruan: ignorantia ignorantiae artinya: Tidak tahu bahwa saya ‘tidak tahu’. Ini bahaya! Karena itu, langkah pertama menuju pengetahuan adalah “kesadaran” bahwa saya ‘tidak tahu’.

Keraguan: tindakan menahan keputusan. Keputusan untuk berada di antara “Ya” dan “Tidak”. Harus dibedakan dua macam keraguan: a. Negatif (keraguan tanpa alasan); b. Positif (keraguan karena ada alasan yang sama-sama kuat.


Persoalan: kesadaran bahwa ada tempat-tempat yang kosong dalam pengetahuan dan menetukan (merumuskannya).


Syak/wasangka: tendensi untuk mengadakan suatu keputusan, tapi tendensi itu terlalu lemah untuk dijadikan dasar keputusan.


Opini: putusan yang disertai rasa takut bahwa putusan mungkin salah.

4. LIMA PEMBUKTIAN ALLAH MENURUT THOMAS AQUINAS

Thomas yakin bahwa pengetahuan manusia selalu terkait dengan alam inderawi. Oleh karena itu Ia menolak bukti apriori tentang adanya Tuhan (Mis: Ajaran Anselmus: 1. Jika Allah dapat dimengerti, dipikirkan, bahkan mungkin untuk disanggah, menunjukkan bahwa Allah itu ada, setidak-tidaknya ada dalam pikiran; 2. Suatu pemikiran pasti mengandaikan obyek yang bisa dirujuk dalam realitas.). Untuk itu Thomas mengambil cara lain untuk menunjukkan bahwa Allah itu nyata-nyata ada. Cara itu disebutnya sebagai “lima jalan” (Quinque viae). Adapun penjelasannya:

a. Jalan pertama. Dasar: fakta adanya gerak (motus) di dunia jasmani ini. Tesis dasar: Semua gerak dan perubahan pasti terjadi karena ada sesuatu yang menggerakkan. Dan, sesuatu yang menggerakkan ini pasti juga digerakkan oleh sesuatu yang lain. Gerak-menggerakkan ini tidak mungkin tidak terbatas. Maka, harus diterima ada penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh penggerak yang lain. Penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh yang lain (motor immobilis) ini adalah Allah.

b. Jalan Kedua. Dasar: Sebab Akibat (ex ratione causae efficiens). Setiap akibat mempunyai sebab. Namun, karena: 1. Tidak ada sesuatu pun yang bisa mengklaim diri sebagai “sebab” yang menghasilkan dirinya sendiri. Contoh: bayi disebabkan karena diri bayi itu sendiri; 2. Rangkaian sebab akibat tidak mungkin tak berhingga, maka harus ada penyebab pertama yang tidak lagi disebabkan oleh sebab yang lain. Penyebab pertama ini (Causa Prima) adalah Allah.

c. Jalan Ketiga.Dasar: kemungkinan dan keniscayaan (ex possibili et necessario). Ada ada 2 macam: Ada yang kontingens dan ada yang mutlak perlu untuk menjamin keber-“ada”-an ada-ada yang lain. Ada yang niscaya dan mutlak dibutuhkan keberadaannya inilah yang disebut Tuhan.

d. Jalan keempat. Dasar: derajat-derajat kualitas segala sesuatu (ex gradibus qui in rebus inveniuntur). Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijumpai ukuran-ukuran pembanding, mis: lebih...., kurang...., dll. Ukuran superlatif dan sempurna itu adalah Allah.

e. Jalan kelima. Dasar: keteraturan di dunia ini (ex gubertione rerum). Allah adalah tokoh berakal budi yang mengarahkan gerakan segala ciptaan yang tidak berakal budi.

Kelima jalan itu memuat larangan untuk :a. Mundur hingga titik tidak berhingga (regressus in infinitum); dan b. Maju hingga titik tak berhingga (progressus in infinitum).

5. KRITIK ATAS ILMU PENGETAHUAN BEBAS NILAI (TEMA ETIKA)

Pentingnya Legitimasi Etika, Mengapa?

Maksud legitimasi = kepentingan etika pertama-tama langsung menyentuh hidup konkret. Karena karakternya yang ilmiah dan normatif, etika perlu agar hidup baik. Perlu legitimasi agar studi etika tetap meyakinkan. Ada persoalan awal yang harus ditegaskan berkaitan eksistensi etika. Perlu dilegitimasi karena ada berbagaimacam anggapan bahwa etika ketinggalan zaman, tidak diperlukan lagi, menghancurkan kebebasan, kurang/tidak mengantar kepada kemandirian, dll. Legitimasi sangat diperlukan karena eksistensi dan aktualitasnya digoyang oleh perkembangan dan perubahan zaman.

Persoalan yang hendak diajukan dalam proses legitimasi adalah mungkinkan etika sebagai ilmu pengetahuan sekaligus normatif? Atau akankan etika ilmiah sekaligus menawarkan nilai2 normatif? Bukankan keilmiahan dan kenormatifan itu sebuah kontradiksi? Inilah berbagai keberatan yang diajukan oleh banyak orang mengenai keilmiahan dan kenormatifan etika. Kenormatifan jelas bukan menunjuk pada suatu ilmu melainkan konstatasi yang mengikat yang memiliki daya wajib, daya larang dan perintah. Artinya setiap pelanggaran dan penyeberangan terhadap prinsip2 etis yang diajukan pasti memiliki konsekuensi moral. Ada sanksi dan akibat etis yang ditimbulkan. Sedangkan keilmiahan suatu ilmu jelas tidak mengandaikan daya ikat seperti ini. Etika sebagai ilmu memiliki karakter rasional juga memberikan konsekuensi bahwa nilai2 yang diajukan bersifat universal dan tetap, sejauh korespondensi dengan rasionalitas manusia.

Beberapa kelombang pemikiran yang mengancam, mengoyang dan mengajukan keberatan atas eksistensi dan kepentingan etika sebagai ilmu ilmiah sekaligus normatif.

a. Bebas Nilai

Tidak sedikit pemikir yang berpikir bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai/bersifat dan berkarakter netral. Contoh: ilmu ekonomi mengejar keuntungan, kedokteran mengurusi kesehatan, dst. Lalu bagaimana etika sebagai ilmu ilmiah sekaligus normatif? L. Levy Bruhl berpendapat bahwa ilmu pengetahuan hanya meminati fenomen2 fisik, maksudnya kalaupun berurusan dengan apa yang spiritual/rasional/normatif (mis: agama), pencetusnya hanya sampai pada fenomen2 yang bisa dianalitis, diselidiki, dikalkulasi, distatistikkan sebab agama bukan sebagai ilmu pengetahuan melainkan kepercayaan yang tidak menuntut suatu pembuktian sebagaimana dituntut dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan berurusan dengan “itu” yang ada sebagaimana adanya, bukan “itu” yang seharusnya ada sebagai demikian.

b. Positivisme Hukum

Menurut kelompok ini, suatu tindakan baik atau jahat ditentukan oleh peraturan yang berlaku. Mis: orang tidak boleh membunuh karena membunuh dilarang, mengapa orang ke Gereja merayakan Ekaristi, karena diperintah oleh Gereja, tidak boleh mencuri karena dilarang Tuhan, dsb.

Positivisme hukum berarti baik itu dijalankan karena diperintahkan oleh hukum sementara jelek dihindari karena dilarang oleh hukum. Disebut positivisme karena sebagamana makna etimologisnya (ponere-posui-positus = meletakkan), kebenaran dan kesalahan tindakan manusia semata-mata didasarkan pada hukum yang diletakan, digariskan/diberlakukan. Positisme hukum dengan demikian menyangkal ada suatu pertimbangan moral yang tetap (karena hukum berubah-ubah seiring perkembangan peradapan manusia).

c. Historisme

Menurut pandangan ini, nilai2 atau norma dalam hubungannya dengan tingkah laku manusia sebagai demikian jelas berubah-ubah dalam sejarah menurut perkembangan zaman. Historisisme menolak validitas nilai2 yang mengatasi zaman. Hegel berpandangan bahwa makna baik justru setelah manusia memiliki kodrat mahluk yang menyejarah yang mampu menemukan atau yang sanggup memaknainya. Historisisme mengedepankan dinamisitas kehidupan manusia sebagai yang menyejarah tetapi sekaligus menyangkal kemungkinan nilai2 moral/etis yang universal, yang berlaku sepanjang zaman. Bagi mereka setiap zaman memiliki etikanya sendiri2. Maka ada kemungkinan bahwa suatu saat etika tidak diperlukan lagi. Keberatan historisisme ialah mungkinkah etika mencetuskan prinsip2 normatif yang berlaku tetap.

d. Gelombang Filsafat Analitis

Filsafat ini memandang etika tidak lebih dari sekedar ilmu logika mengenai prinsip2 diskursus moral. Peran etika tidak lebih dari sekedar menyelidiki secara anlitis (dari sudut pandang analisis bahasa) konsep2 seperti “baik/buruk, adil/tidak adil, kewajiban/hak, dan sejenisnya. Dalam konteks linguistik analisis, etika tidak pernah merupakan ilmu pengetahuan normatif. Nilai 2 yang diajukan tak lebih dari sekedar proposisi2 bahasa yang tidak memiliki daya ikat apapun terhadap perbuatan dan tingkah laku manusia. Mengenai soal benar/salah kita reduksi pada peraturan hukum, undang2, kebiasaan tradisional, dll.

e. Mengalir dari kesulitan yang diajukan oleh Jaques Maritain

Seorang filsuf Neotomistik pernah menjadi duta Prancis untuk Tahta Suci Vatikan pada masa sesudah Perang Dunia II. Dia salah satu pembuat draft (Hak Asasi Manusia Sedunia) thn 1948 di Paris. Dia memiliki pemikiran atau pendapat bahwa nilai2 normatif hanya mungkin apabila manusia memiliki tujuan hidup yang unitversal. Sementara itu mewujudkan hidup yang ideal unitversal merupakan suatu yang mustahil. Tidak mungkin etika mengajukan nilai-nilai normatif yang berlaku dalam hidup manusia tanpa manusia memiliki konsensus mengenai tujuan hidup. Menurut St, Thomas Aquinas tujuan hidup manusia itu ialah kebahagian. Inilah yang menyebabkan adanya fragmentasi2 nilai moral, nilai etis. Atau malah sebaliknya menyebabkan tidak adanya nilai etis. Kesulitan yang diajukan oleh Jaques Maritain menyentuh langsung pada kepentingan etika dalam hubungannya dengan tujuan hidup manusia.

f. Kesimpulan

Dengan demikian apakah etika itu memerlukan legitimasi? Legitimasi etika sangat penting, mendesak, dan perlu justru untuk membela kepentingan aktualitasnya sebagai ilmu pengetahuan. Etika adalah normatif bukan tunduk pada logika sebagai demikian yaitu tunduk pada ketertiban, keakuratan, kebenaran pemikiran kita melainkan karna berkaitan dengan kebaikan hidup kita (martabat manusia), yang mencakup keseluruhan tingkah laku kita sebagai manusia. Etika tidak bisa direduksi dalam hukum atau juga dipersempit dalam lingkup zaman tertentu, atau tidak juga dapat dipahami sekedar pemahamannya dengan terminologi atau proposisi2 bahasa (lingustik). Juga tidak tunduk pada kesulitan sebagaimana ditegaskan oleh Jaques Maritain karena kebaikan itu bagian dari kodrat manusia sebagai manusia. Etika Normatif bukan hanya keharusan dengan tindakan manusia melainkan terutama mengajar pedoman-pedoman yang mengarahkan tindakan manusia pada jalur yang benar dan baik. Dengan demikian etika bukan hanya sebagai ilmu tentang perbuatan manusia melainkan lebih merupakan perbuatan yang membuat hidup manusia semakin manusiawi.

7. TUHAN SEBAGAI UNUM, BONUM, VERUM, PULCHRUM DAN AKTUALITASNYA

UNUMà SATU

Poin-poin:

- Bukan ketegori jumlah/bilangan angka tetapi ketunggalan dan kesempurnaan

- Mau mengatakan kesendiriannya, tidak memiliki lembaran/rujukan.

- utuh, tak terbagi, kompak, dan tunggal

- empat macam kesatuan: simpleks, aksidental (substansi aksiden), substansial (tidak bisa dibelah), relasional

VERUM àBENAR

Poin-poin:

- benar adalah itu yang dikejar oleh akal budi manusia karena benar selalu bercahaya

- sesuatu disebut benar bukan saja karena presuposisi2 yang disusun logis, sistematis, dan teratur

- ada dan kebanaran dapat dibolak-balik

- benar itu memberi energi

BONUM à BAIK

Apa yang disebut baik adalah ada sejauh ada. Jadi realitas ada itu baik, baik itu sejauh ada. Dalam kejadian 1 kita dapat mengetahui kriteria baik adalah ada sejauh ada. Juga manusia, sejauh ada, ia baik. Hidup itu baik, karena pada dasarnya adalah being “ada”, sehingga aktivitas yang menghilangkan kehidupan adalah buruk.

PULCHRUM à INDAH

Indah bukan hanya masalah penampilan fisik tetapi dalam keseluruhan keberadaannya. Being-sebagai being menunjukkan keindahan yang luar biasa. Poin ini merupakan gagasan Thomas Aquinas. Indah pertama-tama berarti menyedot instrumen sensibilis untuk meraihnya. Dalam filsafat Yunani, indah à kesesuaian. Keserasian menunjukkan keindahan. Indah à cemerlang, menyinarkjan cahaya, menyilaukan, dan pada saat yang sama membuat mata berbinar-binar mengaguminya. Kecemerlangannya tidak bisa dihentikan sehingga seseorang akan selalu mengatakannya.

8. POSTMODERN DAN KONSEP KESETARAAN GENDER

KESETARAAN GENDER

Konsep Kesetaraan Gender Dalam 5 Agama Besar di Indonesia:

Budha à Mereka meyakini bahwa ajaran Budha tidak hanya doktrin atau teori saja, dengan dibuktikan dengan keputusan Sang Budha untuk mengizinkan perempuan menjadi bikhuni. Keputusan ini diambil oleh Sang Budha karena mendapat pertanyaan dari seorang Bikhu yang bernama Amanda; "Apakah seorang perempuan yang menjalani kehidupan kesucian dapat mencapai kesucian sebagaimana laki-laki. Pertanyaan ini dijawab oleh Sang Budha; "Bisa." Tetapi justru keputusan inilah, Therrawada dan Mahayana (aliran lain dalam Budha) memiliki cacat, dalam artian keputusan yang membolehkan perempuan menjalani kehidupan kesucian ini, diwarnai kemelut bahwa Sang Budha sempat ragu-ragu. Apa yang menjadi keragu-raguan Sang Budha ini tidak disebutkan dalam Kitab Suci dan tetap menjadi polemik. Kedua, Sang Budha mengizinkan perempuan menjalani kehidupan selibat, menjadi bikhuni tetap dengan menambahkan 8 peraturan keras.

Dasar Agama Kristen/Katolik à Gal 3:27-29 : “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”

Hindu à Dalam agama Hindu, sejak awal kehidupan, perkawinan merupakan salah satu lembaga efektif. Dalam Wreda Smerti disebutkan bahwa hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan berusaha dengan tidak jemu-jemu supaya mereka tidak bercerai dan jangan melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Perkawinan hanya sekali dan jangan melanggar kesetiaan.

Dalam Wreda Smerti juga disebutkan; "Hendaknya hubungan suami istri setia sampai mati". Tetapi dalam kenyataan masyarakat, kawin tidak hanya sekali, laki-laki bisa nikah dengan wanita lain, maksimal empat orang. Dalam Reg Wreda disebutkan bahwa manusia laki-laki dan perempuan sebagai suami istri disebut dengan istilah Dankapi yang berarti tidak bisa dipisahkan. Dalam perkawinan, laki-laki dan perempuan adalah satu tubuh sehingga laki-laki dan perempuan dalam keluarga seharusnya hidup dalam kesetaraan.

Islam à Dalam Muhammadiyah misalnya, sudah banyak sekali pembahasan mengenai peran wanita, kemajuan perempuan, kesejahteraan keluarga. Tetapio ketika muncul wacana untuk menjadikan perempuan sebagai pemimpin dalam tubuh PP Muhammadiyah, hal itu menjadi permasalahan yang sangat serius dibahas sampai tingkat muktamar.

Sementara dalam kelompok wanita sendiri sebenarnya ada dua kubu, pertama; ada perempuan yang ingin berbicara dengan jelas menunjukkan jati dirinya. Dan kedua, ada kelompok perempuan yang tidak ingin menunjukkan dirinya.